Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Clik disini Untuk Link Viral Terbarunya

Sejarah dan asal mula batik

Sejarah dan asal mula batik


Batik sendiri di perkenalkan di dunia pertama kali oleh Presiden Soeharto, melalui konferensi PBB. Sejak saat itu, batik mulai dikenal dan dianggap memiliki nilai seni tinggi dan merupakan bagian dari budaya Indonesia. 

Bahkan, saat ini, tren batik sudah berkembang dengan pesat. Jika dahulu batik hanya digunakan oleh para orang tua saja, tetapi sekarang hampir semua kalangan menggunakan batik. Terlebih lagi, saat ini, batik tidak melulu digunakan pada acara-acara tertentu saja, melainkan digunakan sehari-hari.

Sebagai warisan budaya Indonesia, maka sebaiknya kita mengetahui asal mula sejarah batik itu sendiri. Agar kita semakin bangga dengan warisan budaya Indonesia. Untuk itu, yuk, kita bahas sama-sama bagaimana sejarah batik di Indonesia!

Pengertian Batik

Batik merupakan kerajinan dari kain yang dilukis menggunakan cairan malam sehingga menghasilkan beragam motif yang bernilai tinggi. Nah, pola-pola yang dilukis pun memiliki keunikannya sendiri sesuai dengan daerah asalnya. 

Lantas, dari mana kata batik itu berasal? Batik sendiri berasal dari kata “amba” yang memiliki arti menulis dan “nitik” atau titik yang dapat diartikan membuat titik atau gambar. 

Awal Mula Batik Masuk ke Indonesia

Bicara mengenai sejarah batik di Indonesia, kehadiran batik sebenarnya tidaklah begitu jelas. G.P Rouffaer berpendapat bahwa batik berasal dari India atau Sri Lanka pada abad ke-6 atau ke-7. 

Sementara itu, J.L.A. Brandes seorang arkeolog asal Belanda mengatakan batik tidak berasal dari India melainkan dari Indonesia. Ditambah lagi, F.A Sutjipto seorang arkeolog Indonesia berpendapat jika batik merupakan tradisi asli dari daerah Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Jadi sebenarnya batik berasal dari mana, sih? Oke, mari kita bahas satu persatu, ya!

Sebenarnya, jika diperhatikan motif batik tidak hanya ada pada kain, loh! Melainkan, motif batik ditemukan juga pada relief-relief Candi Prambanan dan Candi Borobudur. Dengan begitu, dapat dikatakan jika batik sebenarnya sudah ada di Indonesia sejak dulu dan tidak berasal dari India. Meski begitu, awal mula keberadaan batik di Indonesia masihlah menjadi tanda tanya.

Sejarah Perkembangan Batik di Indonesia

Oke, sekarang, mari kita bahas mengenai perkembangan batik di Indonesia. Berkembangnya batik di Indonesia sebenarnya dapat dikelompokan berdasarkan periodenya, yakni zaman Majapahit dan zaman penyebaran islam di Indonesia. Loh, kok begitu? 

1. Zaman Kerajaan Majapahit

Kerajaan Majapahit merupakan salah satu kerajaan besar yang hampir menguasai seluruh nusantara dalam sejarah Indonesia. Jadi, tak heran apabila perkembangan batik berkaitan erat dengan kerajaan ini. 

Nah, batik pada zaman Kerajaan Majapahit ini dapat ditelusuri di daerah Mojokerto serta Tulungagung. Mojokerto merupakan pusat dari Kerajaan Majapahit dan juga tempat di mana batik dikenal. Nama Mojokerto sendiri memiliki kaitan dengan Majapahit, loh! 

Sementara itu, Tulungagung merupakan sebuah kota di Jawa Timur yang juga memiliki kaitan dengan berkembangnya batik di Indonesia. 

Saat itu, Tulungagung atau disebut juga sebagai Bonorowo dipimpin oleh Adipati Kalang yang tidak mau tunduk terhadap Majapahit. Akibatnya, Majapahit mengambil tindakan yang menyebabkan Adipati Kalang tewas dalam pertempuran di daerah Kalangbret. 

Setelah Adipati Kalang dikalahkan, maka Tulungagung sepenuhnya dikuasai oleh Majapahit. Para ahli batik yang tinggal di Tulungagung pun membawa budaya batik ke Kerajaan Majapahit. 

Dalam perkembangannya, batik Mojokerto dan Tulungagung ini banyak dipengaruhi oleh batik Yogyakarta. Itulah alasan mengapa batik Mojokerto dan Tulungagung memiliki warna dasar putih dengan corak coklat muda dan biru tua yang mirip dengan batik Yogyakarta. 

2. Zaman Penyebaran Islam 

Bicara mengenai perkembangan batik pada zaman penyebaran islam, maka berkaitan erat dengan daerah Ponorogo di Jawa Timur. Awalnya, agama islam diperkenalkan ke Ponorogo oleh Raden Katong. Ia adalah adik dari Raden Patah sehingga dapat dikatakan merupakan keturunan dari kerajaan Majapahit.

Sementara itu, di Ponorogo, terdapat sebuah pesantren yang dipimpin oleh Kyai Hasan Basri. Pesantren tersebut tidak hanya mengajarkan agama islam saja, melainkan juga ilmu ketatanegaraan, ilmu perang, hingga kesusastraan. 

Kyai Hasan Basri merupakan menantu dari raja Keraton Solo. Istrinya yang merupakan putri dari kraton Solo pun mulai memperkenalkan batik di Ponorogo. Itulah mengapa, batik mulai menyebar keluar kraton dan tiba di Ponorogo. 

Oh iya, kalian tahu gak, kalau zaman dahulu batik hanya dikerjakan di dalam keraton saja? Bahkan, kain batik yang dihasilkan pun hanya digunakan untuk pakaian raja, keluarganya, dan pengikutnya saja, loh! Namun, karena banyak anggota kerajaan yang tinggal di luar keraton, maka batik pun mulai meluas.

Saat itu, obat-obatan yang digunakan dalam pembatikan berasal dari dalam negeri yakni terbuat dari kayu-kayuan, seperti mengkudu, kayu tinggi, dan pohon tom. 

Di awal abad ke-19 batik mulai populer dan meluas hingga menjadi milik rakyat Indonesia, terutama suku Jawa. Pada saat itu, batik yang dihasilkan merupakan jenis batik tulis sampai dengan awal abad ke-20. 

Untuk membuat kain batik, waktu yang dibutuhkan sangat lama, yakni dua hingga tiga bulan lamanya. Karena proses membatik memakan waktu yang lama, maka sekitar tahun 1920 yakni setelah perang dunia ke-1 berakhir, batik cap mulai diperkenalkan. Ide menggunakan batik cap berasal dari Kwee Seng yakni seorang keturunan Tionghoa yang berasal dari Banyumas.